Blink Or Think: Tren Maya Tur Virtual


Editorial Mcnews (01/07). Tak pernah habis mendiskusikan profesi pramuwisata dari hanya sekedar usaha jasa pramuwisata yang digagas pasal 14 Undang-Undang Kepariwisataan Nomor 10 Tahun 2009. Setuju sekali dengan hanya berpikir sekejap, terlalu banyak celah profesi ini tak tersentuh semestinya pembangunan. Tengoklah selama tiga bulan pandemi global, nasibnya dicap paling terdampak Covid-19, maka lahirlah tren kunjungan virtual, namun tak banyak pramuwisata yang siap melakukan virtual guiding. Harus kita syukuri blessing Covid-19 telah memacu pramuwisata untuk belajar membuat VT, apalagi tren paket temu wisata terakhir misalnya adalah tuntutan pasar pemanduan wisata melalui daring, di luar cara-cara luring seperti sebelum pandemi global. 

Buku bestseller internasional BLINK yang ditulis Malcolm Gladwell (Gramedia, 2007) jauh hari sebelum pandemi datang mengingatkan kita pentingnya kreativitas cara-cara memandu wisatawan. Dalam edisi lalu penulis mengingatkan pentingnya pramuwisata membaca kembali kompetensinya bilkhusus pada Unit SKKNI kunci bagaimana Menginterpretasikan Daya Tarik Wisata. Blink adalah mengenai dua detik pertama yang sangat menentukan ketika kita mengamati sesuatu, keputusan sekejap bisa muncul dari ketajuban pandangan (snap jaudgment) dan kedangkalan pemahaman (thin slicing).

Menurut bacaan blink di atas, ada bahaya besar seseorang bila tak menyadari potensi profesi dan usahanya. Pakar benda seni mudah menganali barang antik palsu dalam sekali lihat, ahli cicip makanan mampu membedakan mana keripik buatan pabrikan dalam sekali gigit, atau mencicip gelas mana yang berisi Pepsi dan mana yang Cola. 

Nah, apa hubungannya blink dengan tugas-tugas interpretasi pramuwisata di lapangan VT. Blink mengajarkan bahayanya membuat kesimpulan cepat; bahwa pemasar bisa memanipulasi kesan pertama konsumen, polisi bisa menembak mati sasaran tak bersalah, peserta tur maya bisa gagal faham gegara infomasi yang menyesatkan dan memberi kesan akhir yang membingungkan. Itulah mengapa dalam satu pelatihan pramuwisata, penulis melontarkan tupoksi tour guide adalah maha guru yang ditauladani peserta tur dan pembelajar perjalanan wisata. 

Alhamdulillah guide mulai mau belajar. Kemarin penulis dua kali meliput acara talkshow dua DPC HPI Nasional dengan dua topik berbeda, tetapi bermuara sama bagaimana menjadi pramuwisata beruntung di musim Covid, ujungnya cara-cara bertanam, jualan online, holtikultura, buka lapak HPI Nasional, dan tentu yang seksi tren daya tarik virtual tur. Hal ini juga menarik secara semantik kebahasaan, bahwa ini patut dicermati dan diteliti lagi ranah kompetensinya yakni berbedakah Virtual Tour (VT) dari Virtual Guiding (VG)? Benarkah hal ini oleh dorongan belajar kuno rasa ingin tahu manusia (coriosity) semata seperti disebut alasan orang belajar dan berwisata, ataukah karena daya tarik lainnya seperti bakal mengucurnya order pekerjaan dan konsekwensi keuntungan berlipat.

Yang luar biasa pengalaman VT Raja Ampat periode lebaran lalu berhasil diikuti lebih 100 peserta tur. Bahkan masuk Juni telah booking satu rombongan VT (repeaters) ke Raja Ampat kembali, dan sesungguhnya tour guide disini bisa melakukan digital intertainment, memainkan peran interpretasi profesionalnya. Harus diakui era pandemi telah merubah perilaku orang berwisata, VT sebagai new habit tour sekaligus menjadi strategi marketing wisata lebih bagus lagi di masa mendatang. Pengalaman satu tur operator saja telah menjual 657 virtual tour selama pandemi Covid periode Maret-Mei 2020, jika dikalikan sekali tur Rp 50,000,00 maka hitung sendiri keuntungan berjualan VT. Yang pasti inilah momentum pramuwisata belajar informasi dan teknologi. Namun tetap tak terjawab, mengapa sisi profesi dan pemberdayaan pramuwisata kurang dilirik kampus dan pengampu kebijakan SDM bidang kepariwisataan. Semoga muncul pahlwan IT yang serius menyiapkan profesi pramuwisata profesional dan mampu lebih mandiri menjual potensi daerahnya masing-masing.

Bersambung di editorial Media Center News HPI kita selanjutnya... Just keep writing and send it to info.humasdpphpi@gmail.com atau mcnews.hpi@gmail.com (mcnews/amm)

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama