Interpretasi Pemanduan Wisata: Bedakah Virtual Tour dan Virtual Guiding?


Editorial Mcnews (28/6).

Tiba-tiba saja berlaku karantina kesehatan di dalam memori pekerja kepariwisataan global, di sini pramuwisata galau atas desakan perut dan keluarganya. Pramuwisata dicap potensial looser, harus berinterpretasi kembali atas usaha dan profesinya dari satir ujung tombak layanan wisata. Negara pun berargumen resmi mengemas konsekwensi ketentuan karantina tersebut sekedar menghambat gerak perjalanan sosial berskala terbatas. 


Dari efek pandemi global ini kemudian pelaku wisata mencari-cari kreativitasnya sendiri, bahwa sesungguhnya pikiran tak mungkin dibatasi oleh aturan apapun. Jadi teringat peristiwa Gulf War 1990 ketika pasukan Sekutu pimpinan AS meyerang Iraq, pramuwisata di Bali berbulan ikut terdampak mencari solusi beraktivitas. Penulis saat itu disana telah berpikiran bahwa kerja guiding mesti kreatif, menggunakan kekuatan interpretasi guiding untuk mencari kehidupan.


Ketika diskusi Covid-19 mengemuka di teras kepemimpinan HPI, kondisi webinar Jogja menjadi tren komunikasi idea belajar, yakni; virtual learning. Di sini terumuskan cara-cara menjual paket wisata dikemas virtual, yakni mempertemukan gambar, suara dan informasi dalam pikiran kunjungan destinasi wisata (virtual tour). Pramuwisata pun terus berjalan mencari bentuk pembelajaran lewat virtual tour, bahkan penulis mendorong Guide yang mahir IT sudi meninggalkan zona nyaman. Guide agar menggunakan kekuatan informasinya dalam tren mengemas virtual tour.

Nah jelas sudah, kreativitas tak terbendung oleh maraknya penjualan tour virtual. Dalam hati, pasti guide tetap dibutuhkan dalam praktek kunjungan maya tersebut, kita yakin inilah blessing Covid-19. Karena seperti dimuat panduan pokok unit SKKNI, Pramuwisata mengembangkan dan memelihara Pengetahuan Umum yang diperlukan oleh wisatawan. Jika ditelaah dia dituntut mampu menguraikan keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang dibutuhkan untuk menyelidiki informasi yang dibutuhkan turis melalui daring. Dari lima anasir perjalanan normal biasa, elemen harga paket tour terkoreksi menjadi kebutuhan jaringan internet, makanan informasi, dan kemahiran interpretasi pemanduan.

Di sinilah kreativitas pramuwisata diuji. Di lapangan virtual tour tugas-tugas dan eksekusi perjalanan wisata bertumpu di pundak pramuwisata, ya dialah ruh dan otak perjalanan maya. Secara niaga betul-betul muara tour itu berpusat padanya. Perhatikan kunjungan virtual mulus berjalan dinamis, disini karena peran guide adalah merencanakan, mengordinasikan, melaksanakan perjalanan produk dan jasa tour, dan menginterpretasi obyek kunjungan dalam perspektif yang sebenarnya. Inilah pemanduan wisata virtual (virtual guiding) 

Maka elemen virtual guiding, di samping memimpin perjalanan tour, memberi informasi singkat tentang daya tarik yang dilihat selama tour, dan mengatasi peristiwa gangguan komunikasi virtual yang tak diharapkan. Sedang pembeda pokok dalam virtual guiding, bahwa dari pramuwisata itulah sumber interpretasi, dia harus berjuang; mempersiapkan materi interpretasi, menyajikannya dengan teknik-teknik khusus IT, serta menjadi penghubung (negosiator, informan, entrepreneur perjalanan seterusnya).  

Akhirnya kita harus yakin salah satu kekuatan profesi ini adalah kreativitas pikiran tak terbatas, yakni teknik interpretasi guiding dengan menjual kebenaran informasi dan pembelajaran tour... Asyik emang ya menjadi Guide... Salam HPI Jaya... (mcnews/amm)

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama