Guide C3 : Cinta, Cita Dan Citra




Penulis : Hazairin R. Junep ( Senior Tourist Guide Yogyakarta) 

1. Sekuat Apa Cintamu ?
Penah melihat  pendakwah agama atau propagandis mengemukakan idelogi?. Mereka sanggup berdiri dan bicara nonstop tanpa teks beberapa jam. Apa yang membuat mereka demikian nekad?. Tak lain adalah karena rasa cinta yang sangat dalam dan kuat terhadap agama dan ideologinya. Jika cintamu kurang kuat maka engkau akan berlalu tanpa menengok lagi.

Ada dalang wayang kulit yang sanggup memainkan wayangnya semalam suntuk, kalau bukan cinta yang dahsyat akan seni budaya peninggalan nenek moyangnya tentu ia tak sanggup menahan kantuk dan 'kentutnya' sepanjang itu.


Guide tidak beda dengan pendakwah, propagandis dan dalang itu. Yang beda adalah setting dan audiensnya.  Guide harus cinta mati pada profesinya barulah bisa all out bekerja. Rasa cinta itu membuat kita  merasa memiliki sehingga kita tak mungkin mencederai kehormatan profesi. Untuk itu harus  bisa menciptakan rasa aman  bagi diri sendiri dan klien. 

2. Guiding adalah Pertempuran
Jika ingin damai maka bersiaplah untuk perang. Guiding adalah sebuah pertempuran menaklukkan diri sendiri sebab di medannya ada jutaan godaan tak terperi. Guide menyiapkan diri dengan kelengkapan  meliputi fisik dan mental. Kesehatan harus terjaga. Pekerjaan guide adalah kerja fisik. Pengetahuan memadai agar dapat mentransfer informasi sedemikian rupa sehingga apapun yang disampaikan menjadi hidup, menarik dan diperlukan.


3. Membumikan Cita
CITA adalah rasa dan keinginan yang biasa kita sebut cita-cita dan cita rasa. Ketika kita melaksakan tugas maka sesungguhnya kita sedang memanifestasikan keinginan kita yang terpendam. Berbicara dengan orang lain, lebih lebih dengan orang asing dan pembicaraanpun bukan bualan biasa maka seorang guide dengan  kemampuan komunikasi tinggi sangat sadar bahwa tiap gerak gerik, suara, mimik wajah akan terbaca sebab jarak yang sangat dekat dengan lawan bicara. Kita telah belajar tajwid atau pronunciation, grammar and structure agar susunan kalimat kita jitu dengan artikulasi yang terang benderang.

Kita secara khusus membaca karya sastra klasik dari negeri sendiri dan negeri asal tamu kita, agar bisa memilih kata dan kalimat yang indah dan berpengaruh. Kitapun belajar Mantiq atau logika yang sangat berguna agar kita berkomunikasi dengan bahasa yang logis dan efektif.

Meskipun demikian  semua itu tidak ada artinya jika sikap, prilaku atau behaviour kita tidak selaras. Ucapan kata kata kita dalam kalimat yang hebat itu hanyalah 7% saja peranannya dalam berkomunikasi. Bagaimana kita mengintonasikan tiap kata lebih dahsyat efeknya yang mencapai 38% Yang paling menentukan lagi adalah  ekspresi wajah atau bahasa tubuh kita mencakup 55%.. Itu adalah penemuan Prof.Albert Mehrabian dari UCLA. Tentang hubungan pesan verbal dan non verbal.


4. Guide harus tampil beda!
Suatu hari ada guide yang berdiri dengan gagah menerangkan objek candi yang bersifat angka angka yang berkutat pada tahun, ukuran dan jumlah. Semua dia hafal luar kepala sampai berbusa. Apa kata turisnya?. "Pak guide, kami sudah tahu statistika tentang candi itu, kami sudah membaca dan melihat di film dokumenter. Kami datang untuk mendengar langsung dari pemilik candi ini tentang apa yang dirasakan dan apa makna candi ini dalam kehidupan sehari hari". 

"Kami ingin tahu rahasia apa dibalik bangunan yg bertahan ribuan tahun". "Mengapa ia berdiri disini bukan di tempat lain?".

Guide yang profesional tidak ada masalah dengan berbagai macam klien dengan interest khusus  yang lebih dalam, karena ia telah menguasai materi dengan baik. Untuk guide pemula harus jujur dari menit pertama bahwa ia sedang belajar dan akan mencari jawaban jika belum tahu. Guide punya cita atau keinginan untuk bekerja dengan sebaik mungkin dan mendapatkan imbalan yang memenuhi secara finansial dan terpuaskan secara mental.

Klien punya cita  agar perjalanannya membuahkan hasil berupa pengalaman batin yang indah, wawasan luas tentang setiap objek wisata, merasakan lezatnya kuliner lokal dan indahnya keramahan dan kesan yang dalam dari tiap pelayanan dan pertemuan antar budaya. Sebuah peristiwa cross culture understanding dalam kehidupan nyata.


5. Citramu Harimaumu

CITRA adalah gambaran umum tentang siapa diri guide itu. Sebagai kita ketahui guide adalah Ujung Tombak Pariwisata. Guide membawa citra dirinya sebagai human. Guide membawa citra profesi, bangsa dan negaranya. Guide harus berpenampilan rapi dan disiplin. Tidak perlu pakaian mahal cukup dengan pakaian bersih dan sesuai. Tidak perlu parfum semerbak segala karena bisa sangat mengganggu bagi audiens. 

Suatu hari aku membawa rombongan turis dari Amerika Latin. Semuanya laki laki. Perjalanan memakan waktu 2 malam sampai di Yogyakarta. Mereka ribut minta dicarikan PSK ketika bis mendekati hotel. Aku bicara kepada mereka tentang HIV AIDS dan perdagangan wanita. Aku tidak menutupi bahwa kita ada prostitusi, bahkan ada kompleksnya!. Tapi bila kalian datang untuk itu maka sia sialah perjalanan jauh kalian. Pelacur ada dimana mana dan ia adalah persoalan yang serius karena kalian beresiko kena AIDS  dan terlibat dalam perdagangan wanita internasional. 

Aku membuka pintu bis dan kami bersama menuju reception. Saat Tour Leader mengisi formulir ada seorang yang datang kepadaku dan meminta maaf atas nama grup. Mereka tidak akan mencari pelacur selama di Indonesia dan dia menyerahkan paket berisi kondom agar kusita!.  Seorang conciege hotel mendatangiku untuk menawarkan PSK aku bilang itu orang membutuhkan, silakan hubungi langsung, sambil ku tunjuk orang yang telah menyerahkan paket tadi.

Setidaknya seorang guide telah menyelamatkan image bangsa dan negaranya malam itu. Dan menyelamatkan perempuan adalah sama dengan menyelamatkan seluruh bangsanya!.

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama