Guide TKO



Penulis : Hazairin R. Junep ( Senior Tourist Guide Yogyakarta) 

Pariwisata adalah sektor yang meliputi segala lini dan aspek kehidupan. Persiapan yang matang harus dilakukan sebelum  membuka suatu Daerah Tujuan Wisata. Baik dari sisi Penginapan, Restoran, Transport, Infrastruktur maupun  Industri Pendukung  yang  meliputi Pertanian, Perikanan dan Hiburan.

Tetapi 'main menu'  yang paling utama dicanangkan adalah  SDM kita,  yang kelak akan menangani  dan berhadapan langsung dengan  invasi budaya dan bangsa asing itu. Kita melihat berbagai daerah yang awalnya mulus tanpa cacat bisa  tiba tiba menjadi daerah rawan narkoba dan prostitusi. Pengelolaan objek wisata yang kumuh dan dikepung kios dan pedagang asongan yang semerawut. Akibatnya ada DTW  (Daerah Tujuan Wisata) yang terbengkalai karena turis kapok datang.

Karena luasnya ruang lingkup masalah ini,  maka kita fokuskan dengan masalah Guide sebagai SDM di garda depan Bisnis Pariwisata. Guide umumnya  memang bekerja untuk travel agent tapi sesudah mengantongi order tanggung jawab ada di tangannya.

Guide yang profesional berlisensi bekerja sepenuhnya dengan SOP tetapi karena memiliki kekuasaan atas pengelolaan perjalanan selama program yang tertera dalam ordernya maka akan muncul tantangan dan godaan.

Pada kesempatan yang lalu dikatakan bahwa guiding adalah sebuah pertarungan melawan diri dengan medan yang berbeda dari skala kecil sampai besar. Dalam pertarungan itu Guide bisa TKO dan selesailah karirnya atau jika ingin comeback maka ia memerlukan waktu panjang untuk pulih dan bisa  bertarung dan  sekali lagi pertarungan itu adalah untuk melawan diri sendiri.


TIP 

Adalah akronim dari “To insure promptness” artinya Untuk Memastikan Ketepatan Waktu. Bisa juga merupakan akronim dari “To Insure Performance” artinya Untuk Memastikan Kinerja.Baik yang pertama maupun yang kedua sama sama menuntut kepastian.

Tidak ada mandatory dalam TIP meskipun ada tertulis di board ataupun di order. Didalam Etika guiding juga disebutkan bahwa guide tidak diperkenankan untuk meminta TIP. Disinilah jebakan yang cukup mengganggu jika guide tidak profesional. Karena mengharapkan TIP itu maka dia berbuat segala cara dari tindakan berlebihan yang menyembah-nyembah bahkan sampai minta dikasihani.

Ada dua cara klien memberikan TIP yang pernah saya alami selama guiding. Pertama saat saya membawa bangsawan Inggris. Dari cara jalan, intonasi dan gerak geriknya sangat tampak bahwa mereka orang Istana. Saya melayani dengan standar tinggi, kepada semua klien, ada yang formal dari sambutan sampai berpisah. Ada juga yang dalam waktu singkat jadi cair.  Ketika saya membukakan pintu mobil klien turun dan langsung menyalami saya dengan segepok uang, kemudian sopir juga diberikan. Kami lantas ke reception untuk registrasi. 

TIP didepan ini adalah  seolah berkata ini jaminan atau asuransi keselamatan saya. Saya percaya kepada tuan!. Saya berkerja lebih waspada sampai tuntas. Ketika berpisah kami tidak lagi menerima TIP. 

Jenis yang kedua adalah TIP yang diberikan saat kita berpisah. TIP ini adalah cara klien menyampaikan penghargaan atas pelayanan kita. Besar kecilnya tidak mencerminkan kuat lemahnya penilaian atas kinerja kita. Namun demikian sebagian besar dari klien tidak memberikan TIP. Oleh sebab itu guide harus bekerja dengan SOP dan tidak perlu mengharapkan TIP karena sudah setuju bekerja dengan gaji yang ditetapkan.



Komisi

Didalam panduan etika kerja guide dilarang keras mengatur agar tamu berbelanja ke artshop agar dapat komisi. Persoalan kita saat guiding adalah mengatur waktu kunjungan ke setiap objek wisata. Jika program transit maka dipastikan bahwa tidak ada waktu untuk berbelanja kecuali memang ada acara shopping di dalam order. Saya sering mendapat komplain dari tamu bahwa waktunya untuk menikmati objek  menjadi berkurang karena dibawa ke art shop. Gara gara mengejar komisi kita 'melabrak' konsep dan filosofi  Sapta Pesona. Pak Joop Ave pernah meminta supaya guide tidak sibuk dengan komisi belanja karena bisa memporak porandakan program pariwisata berkelanjutan. 

Pernah ada suatu kejadian di Lombok, turis dibawa ke desa tenun. Mereka belanja disana, kemudian ke pantai. Bencana bagi si guide tamunya membeli kain yang sama sangat murah dari pengasong. Ketika pulang ke hotel si tamu mengambil kain yang dibeli di desa tenun tersebut dan melemparnya ke guide!.


Optional
Biasanya guide yang membawa tamu menginap atau tanpa program bisa menawarkan tur yang sekiranya menarik hati klien. Seorang guide yang membawa order bekerja pada travel sehingga semua ketentuan adalah dari travel agen itu. Tarif untuk setiap program sudah ditentukan. Dalam hal negosiasi inilah bisa tersandung. Mark up harga atau menjual diam diam tanpa sepengetahuan kantornya. Tindakan itu melanggar kode etik dan cepat atau lambat akan terbongkar jua..

Hubungan kerja dengan travel agen harus dilandasi kejujuran dan transparansi. Hubungan dengan tamu akan dinilai karena kebaikan hati, kehalusan budi dan kemurahan hati.  Mari kita bekerja secara profesional supaya pariwisata kita  berkelanjutan agar dapat menopang perekonomian anak bangsa kita setiap hari.


0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama