Paugeran Keraton : Who is The Next Ha-Ba..?



Ada sebuah pertanyaan unik dari wisatawan yang mengunjungi Yogyakarta akhir-akhir Ini, Who will be the next Ha-Ba?. Pertanyaan ini berawal dari hal yang terjadi di dalam kraton beberapa tahun terakhir ini, dari munculnya Sabdaraja 30 April 2015 dan Dawuhraja 5 Mei 2015. Sri Sultan Hamengku Buwono X telah menjelaskan makna Sabdaraja. Yang diberikan di Ndalem Wironegaran pada 8 Mei 2015. Sabdaraja berisi lima perintah. Di antaranya, keputusan Sri Sultan Hamengku Buwono X mengubah nama dan gelarnya. Inti Sabdaraja adalah penggantian gelar, seperti perubahan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono X, yakni Buwono menjadi Bawono. Kanjeng menjadi Sri, Khalifatullah dan Sayidin dihilangkan dan diganti Langgeng ing Toto Panotogomo, Kaping Sedasa diganti Kasepuluh.

Sedangkan gelar sebelumnya sejak Sultan naik tahta pada 7 Maret 1989 berbunyi, Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat. Adapun dawuhraja berisi titah dari Sri Sultan Hamengku Buwono X mengganti nama putri sulungnya dari GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi.

Nah, jika wisatawan bertanya siapakah pengganti Sri Sultan Hamengku Buwono X? Bagaimana kita sebagai pemandu wisata menjawabnya? Jawaban singkatnya adalah suksesi kraton akan mengikuti aturan kratonPaugeran dan Pranatan”. Paugeran berisi hal-hal yang fundamental. Ibarat dalam negara adalah Undang-Undang Dasar Negara. Sedangkan Pranatan adalah aturan yang bisa berubah seiring dengan kemajuan jaman. Untuk masalah suksesi masuk dalam Paugeran Kraton. Satu hal yang pasti baik Paugeran dan Prantan ada yang tertulis dan tidak tertulis. Jadi intinya suksesi di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan mengikuti Paugeran dan Pranatan.

 Di sini penulis ingin berbagi teknik membawakan topik tersebut saat sedang menjalankan tugas sebagai pemandu wisata saat guiding di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Langkah pertama, ketika berangkat dari hotel menuju ke Kraton, saya memberikan penjelasan awal tentang sejarah singkat berdirinya Kraton hingga raja yang sedang bertahta saat ini yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono X. Kita agar lebih menarik, kita bisa  menunjukkan foto Sri Sultan Hamengku Buwono X  dan GKR Hemas lengkap dengan kelima putri mereka. Lalu, saya  mulai dengan sebuah pertanyaan: apakah para wisatawan mengenali foto yang saya tunjukkan ? Kedua, saya menyampaikan bahwa raja yang sekarang hanya memiliki satu orang istri (garwa prameswari) dan memiliki lima orang anak perempuan tanpa  anak laki-laki. Saat ini Sri Sultan Hamengkubuwono X telah berusia 74 tahun. Biasanya ketika sampai pada keterangan ini para wisatawan akan bertanya. Lalu siapa yang akan menggantikannya?

Sebagai pemandu wisata saya menjelaskan seperti berikut; “topik ini hal yang sangat sensitif bagi kami warga Yogyakarta dan terutama keluarga Kraton. Biasa saya membahasnya di bus Jika kita membicarakan suksesor sultan sekarang di tempat umum bisa terjadi kemungkinan akan ada orang lain yang mendengar dan akan bertanya kepada saya. “apakah kamu anggota keluarga Kraton?” atau “Sri Sultan Hamengku Buwono X masih sugeng (sehat), mengapa kamu membicarakan penggantinya?”. Pertanyaan pertama itu muncul karena suksesor sultan adalah urusan keluarga Kraton. Pertanyaan kedua itu muncul karena kami hidup dengan unggah-ungguh (tata krama) dengan membicarakan pengganti sultan itu bisa juga diartikan ”apakah kamu berharap Sultan akan segera wafat?” tentu ini tidak sopan terdengar.. Namun anda semua tidak perlu khawatir akan jawaban atas pertanyaan siapa yang akan menjadi Sultan berikutnya, mengapa? Karena sekarang anda akan mengunjungi Kraton, bisa juga bertanya langsung kepada abdi dalem atau pemandu lokal yang akan menemani anda di Kraton. Jadi anda bisa mendapatkan jawaban langsung dari mereka.

Apa yang terjadi setelah wisatawan tadi selesai mengunjungi Kraton saat di Bus? suasana menjadi antusias dan terjadi pro dan kontra antara mereka. Di sinilah terjadi momen yang saya suka.. Saya akan minta beberapa dari mereka untuk memberikan testimoni dan pendapat antara yang pro dan yang kontra. Saya memberikan microphone pada mereka dan membiarkan mereka menyampaikan pendapat. Biasanya suasana di dalam bus menjadi riuh. Di sinilah kemampuan saya sebagai pramuwisata muncul untuk memandu (to lead) mereka. Saya biasanya akan menutup diskusi dengan menyampaikan jawaban bahwa raja berikutnya tidak perlu diperdebatkan lagi karena jawabannya adalah kita harus menunggu sebagaimana kami warga Yogyakarta juga menunggu dan hanya bisa menunggu. Kami percaya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan mengambil keputusan terbaik.

Jadi, yang ingin saya bagikan adalah pentingnya menggunakan alat peraga untuk menarik perhatian wisatawan akan topik yang kita bicarakan. Sekali lagi karena topik ini sensitif untuk dibicarakan, maka saya memilih untuk membahasnya di dalam bus dan membiarkan wisatawan berargumen dan menginterpretasikan karena sampai hari ini kita memang belum bisa menjawab siapakah pengganti Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Terima kasih

Penulis: Sayogo Kertodikromo

Licensed Tourist Guide No. 398/PWU/DIY/15/E, DPD HPI DIY.

 

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama