Sustainable Tourist Guide

MCNews (1/7). Kita sudah akrab dengan istilah sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan. Dalam prespektif pariwisata berkelanjutan, senantiasa terkandung tiga (P) yang senantiasa kait-mengait tak terpisahkan. Keterpisahan di antara ketiga hal tersebut berarti distorsi tentang pemahaman sustainable, bahkan bisa berakibat anomali dalam kehidupan, karena berarti terjadi ketidakseimbangan. Lantas apa tiga (P) tersebut dan apa hubungannya dengan profesi pemandu wisata?

(P) pertama adalah "Planet". Sustainable di sini berarti semua kegiatan pariwisata mesti bersinggungan dengan alam semesta secara harmonis dengan tetap dinamis. Pariwisata adalah kegiatan penuh dinamika yang selalu dan pasti bersinggungan dengan alam semesta dan seluruh isinya. Bentangan alam nan indah ini memang diperuntukkan bagi umat manusia untuk mengeksplorasi dan menikmati dalam semua dimensinya, pariwisata tentu masuk di dalamnya. Mengeksplorasi tentu beda dengan mengeksploitasi, yang justru terkadang,  sering malah, dalam berbagai aktivitas bertinteraksi dengan bumi manusia justru melakukan itu. Pariwisata berkelanjutan Sustainable tourism bermakna bahwa semua aktivitas yang berkait dengan pariwisata harus menjaga dan memelihara kelestarian alam, bertindak bijak dan berkeseimbangan dengan tidak melakukan eksplorasi demi keuntungan ekonomi semata.

(P) kedua adalah "People".  Tuhan menciptakan bumi dan seisinya adalah diperuntukkan bagi manusia. Karena itu, manusia (people) menjadi sentral dalam semua gerak aktivitas di bumi ini. Manusia adalah makhluk dengan karya, karsa, dan budaya yang tentu amat lekat dengan bumi di mana berpijak. Semua itu menandakan bahwa makhluk yang berjuluk manusia dengan segenap kemampuannya tersebut, tidak boleh dipandang hanya sebagai obyek tapi mesti menjadi subyek dalam semua aspek kehidupan. Sustainable tourism memaknai bahwa masyarakat (semua orang yang terlibat dalam kegiatan pariwisata), terutama masyarakat yang berada di sekitar destinasi, menjadi subyek yang harus dihargai dan diberdayakan dengan segala karya, karsa, dan budayanya. 

(P) ketiga adalah prosperity. Dalam perspektif sustainable tourism kesejahteraan masyarakat, utamanya masyarakat sekitar destinasi, menjadi bagian penting dan terintegrasi .dengan semua jenis aktivitas pariwisata. Pariwisata harus mampu menjadi katalisator peningkatan kesejahteraan masyarakat di mana aktivitas pariwisata berlangsung. Dalam pandangan pariwisata berkelanjutan pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi, sosial, dan budaya menjadi suatu keniscayaan.

Lantas, bagaimana dengan "Sustainable Tourist Guide?"
Yes,...pemandu wisata adalah salah satu stake holders pariwisata, tentu saja dalam melakukan profesinya disamping memperoleh sesuatu sesuai hak juga memiliki kewajiban yang harus ditunaikan. Ada keseimbangan antara hak dan kewajiban. Istilah sustainable tourist guide saya maksudkan sebagai sebuah adagium bahwa profesi kepemanduan terkait langsug dan tak terpisahkan dengan semua aktivitas pariwisata sebagai suatu yang holistik. Keterpisahan berarti alarm atau sinyal kemandegan bahkan kematian bagi profesi. 

Merujuk pada sustainable tourism, berarti pemahaman tentang pramuwisata berkelanjutan adalah kegiatan kepemanduan yang dalam aktivitasnya menganeksasi jargon tiga (P). Di mana, pertama, dalam aktivitasnya pemandu wisata harus berakrab-akrab, berkasih sayang, dan bersetubuh dengan alam. Kedua, turut serta aktif dalam berbagai bentuk memberdayakan dan mengedukasi masyarakat sekitar destinasi. Ketiga, dengan kemampuannya turut terlibat dalam upaya peningkatan kesejahteraan ekonomi, sosial dan budaya masyarajat. Dan, tentu saja peningkatan kesejahteraan pribadi dan keluarga (bom).

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama