Guiding Melahirkan Rasa Nasionalisme

 




Berbicara mengenai topik pramuwisata dan HPI, ada banyak dimensi-dimensi abstrak yang bisa kita letuskan sebagai ranah seksi untuk dibahas. Salah satu butiran itu adalah Nasionalisme yang dibisa digetarkan lewat militansi berprofesi.. Beberapa simpul tali yang menjadi perbincangan hangat kita adalah guiding dan jiwa  Nasionalisme. 

Guiding dan Nasionalisme
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri. Bagi Seorang Pramuwisata Rasa Nasionalisme itu haruslah ada, sebab kita punya negara yang layaknya menjadi tempat kita tinggal. Bagaimana jadinya wajah dan beranda rumah yang tempati oleh tuan yang tidak memillki rasa memilki? Dikencingi, dilempar hingga semak belukar tumbuhpun sang pemilk tidak peduli. 

Menyambut wisatawan berarti meletakkan perumpamaan mengajak tamu yang hendak singgah ke rumah kita . Dari awal menjemput di Bandara, kitalah yang menjadi ‘wajah’ pertama Indonesia dalam semenanjung perjalanan. Untuk itulah, seorang pramuwisata harus ditempa untuk memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi, mencintai budaya dan ilmu pengetahuan serta bermental patriot yang dibalut profesionalisme. Seorang pramuwisata lah yang akan hadir dengan bangga menginterpretasi kesimpulan lekuk  tubuh Indonesia . Dengan  letupan semangat kebangsaan, mengenalkan budaya  dan Kearifan Lokal kepada dunia. 

Pramuwisata mampu menyuguhkan cita,rasa ,karya dalam cerita kuliner  yang akan digoyang lidah wisatawan.  Mereka juga bangga mengarahkan wisatawan untuk membeli produk yang dihasilkan oleh penduduk lokal, bukan brand ‘tetangga’. Semua skenario tersebut adalah bagian dari Rasa Nasionalisme. 

Mencemari Nama baik Indonesia  adalah  salah satu dosa terbesar seorang pramuwisata. Pramuwisata yang Profesional akan sangat berhati-hati menjaga reputasi organisasi profesi dan negara ini. Guide memilki  Rasa hormat pada pejuang, pemimpin, tradisi, budaya, agama dan bersedia membela nusa dan bangsa dari segala ancaman. Seorang Guide haruslah menjadi Patriot. Tidak boleh Chauvinis apalagi extrimis, Berwawasan global berjiwa nasional, itu kata kuncinya. 

Pada tulisan salah seorang senior guide tentang Guide C3 : Cinta , Citra, telah dijelaskan tentang pentingnya menjaga citra dan image bangsa lewat profesi ini. Pusaran Posisi pramuwisata bukan lagi larut di tepi ekosistem pariwisata namun muncul sebagai tombol tengah diantara Tourism Hexagon  yang digagas pimred MCNEWS Pada tulisan pramuwisata di pusat ekosistem wisata

HPI Jaya!
Himpunan Pramuwisata Indonesia sudah mencanangkan dari konsep awal  untuk menanamkan semangat ini, bahkan sudah tercermin dalam logo yang menggambarkan  the real Indonesia .Background Warna  Merah Putih bahkan tidak bisa diganggu gugat untuk diubah, tidak semua organisasi profesi dengan bangga menampilkan merah putih sebagai landasan warna pada simbolnya. Burung Cenderawasih juga hadir sebagai local style yang menampilkan identitas Indonesia. Di Antara warna dan Logo itulah yang menjadi acuan harga mati kecintaan organisasi ini pada bumi pertiwi. 

Semangat merdeka seorang pramuwisata dibuktikan dengan karya dan aksi nyata. Kreatif dalam memberikan ide, dan inovatif dalam implementasi di lapangan untuk kepentingan bersama. Untuk itu sepakat dan sama-sama kita simpulkan, bahwa proses kepemanduan pariwisata tidak hanya mengenai materi dan profesi, lebih jauh lagi ia menjadi proses pemupukan pengetahuan dan semangat menyuburkan jiwa nasionalisme 
Dirgahayu Republik  Indonesia ke-75 

Merdeka!
Jaya Indonesia!
Jayalah HPI!

(mcnews/aka)

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama