Mencintai Negeri Nan Tak Bertepi

 

MCNews(20/8). Berbagai istilah yang menyebut negeri macam apa ini, "Zamrud Khatulistiwa, Ratna Mutu Manikam, Gemah Ripah Loh Jinawi, Ijo Royo-royo, The Sleeping Giant, hingga Small Peace Of The Heaven", cukuplah sudah slogan kata-kata tersebut menunjukkan negeri macam apa wilayah yang bernama Indonesia ini. Apa lagi yang kau sangsikan sobat? Kesangsianmu tentu tak kan memperoleh sangsi sobat, namun kesangsianmu menunjukkan keraguan cintamu terhadap negeri ini. Jadilah pecinta sejati!

Pernahkah terbersit dalam hatimu untuk tidak mencintai negeri ini? Berpaling dan membuang muka karena merasa jijik dan jengah dengan kecentangperenangannya. Percayalah, masih ada banyak sisi baik yang membanggakan dari negeri ini. Negeri ini negeri serpihan sorga, negeri ribuan pulau, negeri Bhinneka Tunggal Ika dengan karunia bentangan alam nan elok memesona, budaya nan adiluhung dan manusia  nan selalu tersenyum ramah dan bungah. Semua itu menyatu, terpadu, dan memadu dalam simponi orkestrasi nan penuh harmoni, membuat dunia mendecak kagum dan mengagumi, terpesona, dan menimbulkan hasrat dan gairah untuk bersegera bercengkrama. 

Wahai sobat......segala keelokan dan keindahan negeri ini perlu terus kita wartakan kepada dunia. Kita tarik, kita "jambak" agar warga dunia menengok dan menyambangi negeri tercinta ini, dan kita tunjukkan masih ada pelangi di negeri ini. Karena mendung tak selamanya menggantung! Covid tak selamanya menjepit!

Teruslah mengaum. Jadilah macan, macan nasionalis. NKRI harga mati. Karena macan mati meninggalkan belang. Taklah semua itu menyurutkan nyali kita untuk terus bersuara, bernyanyi, jika perlu berteriak, berkoar menyemburkan aura magis negeri tercinta ini kepada warga dunia. Karena menyemburkan aura magis negeri ini adalah tugas utama dan pertama kita sebagai pembawa warta kepada dunia. Kita adalah warga negara garda depan yang dengan komitmen profesionalisme membersamai bangsa ini berupaya untuk tetap dan selalu eksis, bahkan bertumbuh  dan dipandang tidak dengan sebelah mata oleh bangsa lain. Kita adalah pasukan dengan 14.000 tentara yang siap berperang dan bertempur di garis depan (front liner) di medan juang laga primer pariwisata.

Berhimpun tentu bertujuan. Berhimpun bukan berkelompok atau sekadar berkumpul, apalagi bergerombol. Berhimpun berarti bersatu dan menyatu, berpadu dan memadu dalam sebuah barisan yang kokoh,kukuh, dan mengutuh bersama-sama senada dan seirama, seiring dan sejalan saling berjaga dan menjaga. Himpunan tentu saja berisi orang-perorang atau para individu dengan segala keterbatasan, kelebihan, dan keunikan masing-masing. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna yang memiliki segala kelebihan dan keunikan. Tidak ada yang disebut Superman, itu hanya pelem, yang ada adalah Superteam. Sebuah tim solid yang bersama-sama menjaga, memelihara, dan turut serta berkontribusi, sesuai dengan bidang garap,  akan keberlangsungan negeri tercinta ini. 

Mencintai negeri adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup di bumi ini. Sebagai sebuah etape atau episode perjalanan panjang menuju keabadian nan didambakan. Perjalanan mencintai negeri tentu tidak akan selalu mulus dan lurus, pasti akan bergelombang. panjang, dan berliku, bahkan terjal. Negeri ini pernah dijajah, bahkan hingga sekarang kita belum “merdeka” sepenuhnya. Masih banyak ketidakberesan dan kebobrokan di negeri ini,itu realita. Tentu semua itu tak perlu membuat kita bermuram durja, berpasrah dan berpangku tangan. 

Negeri ini akan terus berlangsung dan sengaja dilangsungkan, dengan atau tanpa kita. Kita menjadi bagian integral tak terpisahkan, menyatu mandarah daging dengan semua komponen anak bangsa. Kita mesti menunjukkan bahwa kita ada dan  kita mencintai negeri ini. Tunjukkan bahwa kita ada dan berkemampuan berlaga. Karena Cendrawasih ada di dada kita(mcnews/bom).  




0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama