Storytelling vs Interpretasi: Sinergi Diklat Pramuwisata


Editorial Mcnews (14/8). Ide penyempurnaan kembali Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang Pemandu Wisata muncul dari FGD Penyusunan Pedoman Storytelling, Kamis kemarin (13/8) di Hyatt Regency Yogyakarta. Acara ini dibuka oleh Pak Alexander Reyaan Direktur Wisata Alam, Budaya, dan Buatan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dihadiri Kepala Dispar DIY Singgih Raharjo, dan para undangan penulis buku, peneliti dan pelaku usaha terkait storytelling produk wisata termasuk penulis selaku Kabid Humas DPP HPI. 

Presentasi storytelling disampaikan Dr. Hendrie Adji Kusworo dan Tim Storytelling and Experiential Tourism Working Group Universitas Gadjah Mada. Sebagai pembanding yakni Prof Kwartarini Wahyu Yuniarti Fakultas Psikologi UGM, Ibu Wiwien tim Penyusun Pedoman Interpretasi, Teguh Amor Patria Pokja Wisata Budaya, dan Ibu Astrid Savitri. Bahasan dan target diskusi meliputi pendahuluan, kajian pedoman storytelling, metodologi, dan kajian akademis pedoman storytelling.

Tim mengawali paparan bahwa sebanyak 35% pelancong internasional mendasarkan tujuan wisata mereka pada cerita yang berasal dari sesama pelancong di dunia maya. Destinasi berkonsep storytelling 5 (lima) kali diakui lebih sukses mempengaruhi calon wisatawan daripada promosi destinasi yang konvensional, dan 3 (tiga) kali lebih besar daripada destinasi dengan tawaran spesial dan diskon. Contoh cerita lokal yang kuat mampu mengikat hormat dan emosi wisatawan dunia dengan kesan kunjungan amat mendalam

 (https://tci-research.com/patatci-report-on-storytelling-released/).

Dari tanggapan ahli psikologi juga terungkap, bahwa kesan dan pengalaman tak mampu seluruhnya diceritakan tetapi perlu kunjungan lapangan dengan storytelling yang menyentuh perasaan terdalam serta membentuk pola pandang peserta paket wisata. Maka sarana bercerita lewat storytelling dan interpretasi guiding yang baik akan menghasilkan revinue hasil-hasil kunjungan yang signifikan, bahkan menjadi tumpuan pengembangan pariwisata.

Teknik bercerita digunakan untuk membentuk pikiran dan menanam pengalaman serta pengembangan kepribadian. Elemen dan konsep storytelling di sini terdiri dari identifikasi audiens, medium komunikasi, informasi, sejarah tradisi budaya, dan potensi alam. Storyteller yang baik mampu mengungkit data-data memori lama pengunjung kepada pengalaman baru yang mengesankan, seperti topik makanan suschi diceritakan topik kuliner tradisi jawa di relief Borobudur otomatis melekat bagi pengunjung asal Jepang.

Intinya ketika narasi data-data daya tarik kunjungan disuguhkan dan disajikan lewat fungsi dan tugas ideal pemanduan wisatawan melibatkan emosi profil budaya turis, sungguh efektif memberi kesan wow positif di mata pengunjung. Ternyata sebuah cerita guiding di obyek daya tarik tertentu akan bermakna maksimal bahkan mampu menembus pusat memori pengunjung melintasi capaian media, dinamika sosial, bahkan jejaring peradaban bangsa-bangsa.

Jika demikian pengaruh storytelling bagi destinasi kepariwisataan kita di masa depan, perlu kiranya disiapkan pedoman cerita yang tepat dan unik bagi profesi pencerita perjalanan hidup ini didukung dan diimplementasikan melalui sistem narasi yang baik. Disinilah peran kunci kurikulum storytelling dan interpretasi guiding bagi masa depan pengembangan destinasi pariwisata Nasional. Diharapkan FGD pedoman materi storytelling dan interpretasi guiding ini saling menyentuh jabaran dan pengalaman kompetensi pemandu wisata sesuai pedoman SKNNI, seperti unit-unit kompetensi guiding Nomor 1, 3, 5, dan kompetensi pemanduan Nomor 8.

Senang memperoleh penjelasan Pak Singgih Kadispar DIY ihwal progres uji coba terbatas destinasi pariwisata DIY di era kenormalan wisata. Telah terdata periode Juli sampai pertengahan Agustus sebanyak 300.000 turis dengan penerapan protokol kesehatan dan syarat ketat kunjungan turis asal zona merah-hitam. Catatan kritisnya, bisa jadi inilah refleksi herd immunity agar pelaku pemanduan wisata menerapkan prinsi-prinsip SOP HPI di lapangan.

Akhirnya asosiasi HPI berharap besar pada enam agenda wisata melengkapi FGD storytelling dan interpretasi tahun 2020. Program strategis disampaikan Direktorat Kemenparekraf Pak Alex ini adalah: Roadmap pengembangan wisata alam, budaya, dan even buatan; Travel pettern wisata alam, budaya, dan even buatan, penyusunan pedoman interpretasi, penyusunan pedoman storytelling, serta pola perjalanan wisata di lima destinasi unggulan dan tujuh tematik perjalanan wisata. Pedoman keenam adalah SOP protokol kesehatan wisata selam, pendakian gunung, wisata arung jeram, paralayang, maraton, dan wisata golf. Ke seluruh agenda ini amat terkait profesi Pramuwisata. Jayalah HPI, jalayah selalu (mcnews/amm).

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama