Kenormalan Pemanduan di Destinasi Wisata


 Editorial (29/8). Layanan kawasan wisata Taman Nasional Bromo, Tengger, dan Semeru (BTS) dimulai Jumat 28 Agustus 2020 kemarin. Diharapkan pertumbuhan wisata berjalan ideal dan normal, bahwa Pramuwisata bisa menjadi pusat ekosistem kepariwisataan dan penentu keberhasilan kunjungan turis di lokasi destinasi. Demi penerapan seluruh protokol kenormalan wisata BTS, seluruh pengunjung wajib mendaftar online di 

https://-travel.kompas.com/read/2020/08/25/150300627/wisata-bromo-kembali-buka-28-agustus-2020-pengunjung-wajib-daftar-online.

Pengunjung BTS perlu memperhatikan adanya ketersediaan kuota sebesar 20 persen dari total daya tampung normal. Kapasitas Site Pananjakan, Kabupaten Pasuruan, sebanyak 178 orang/hari. Site Bukit Cinta (Pasuruan), sebanyak 28 orang/hari. Site Bukit Kedaluh (Pasuruan), sebanyak 86 orang/hari. Site Savana Teletubbies (Probolinggo), sebanyak 347 orang/hari. Site Mentigen, Kabupaten Probolinggo, sebanyak 100 orang. Total kapasitas per-hari 739 saja pengunjung di Bromo. Ini kesiapan penting, apalagi bila ditambah kronik kawasan Ijen-Semeru. Sebab itu Pramuwisata sepanjang kawasan BTS mesti kreatif memahami konstitusi HPI, etika profesi, dan tentu peraturan setempat hingga Nasional terkait layanan Standar Usaha Jasa Pramuwisata. 

Profesi pramuwisata yang memiliki sertifikat dan badge (tanda pengenal) wajib berhimpun di dalam satu wadah organisasi pramuwisata telah diatur Pasal 14 Kepmen Parpostel Nomor KM 82/PW.102/MPPT/88 tentang Pramuwisata dan Pengatur Wisata. Bahkan sesungguhnya destinasi BTS merupakan obyek Overland kunjungan penting rombongan turis sejak zaman kolonial. Artinya kehadiran Himpunan Duta Wisata Indonesia (1983) hingga nama perkumpulan Guide menjadi Himpunan Pramuwisata Indonesia. Jadi kehadiran struktur daerah berupa Dewan Pimpinan Cabang HPI di Probolinggo, Pasuruan, Bondowoso, Banyuwangi dan seluruh Jawa Timur patut mengindahkan Peraturan Daerah Jawa Timur tentang Pemandu Wisata.  

Selaku Ketum DPP HPI Sangtu Sabaya di laman FB-nya mengajak 6.000-an Guide Anggota HPI Bali tetap semangat, hal ini terkait kesiapan destinasi Bali yang diundur dari 11 September ke akhir tahun. Bahwa Pramuwisata bersama sektor kepentingan di manapun mesti siap mejalankan protokol guiding di lapangan. Demikian seperti disampaikan Ketua DPD HPI DIY Imam Widodo dalam fasilitasi Kementerian Parekraf pelatihan pengembagan kapasitas 100 pemandu wisata city tour #2 dalam pematerian kemarin (27/8) bersama LPK Prima Edutama. Bahwa profesi pramuwisata DIY telah memiliki Perda Kepramuwisataan No. 4 Tahun 2020, serta di manapun sesuai PP Nomor 52 Tahun 2012 mereka wajib berlisensi dan atau sertifikat kompetensi di bidangnya.

Demi peningkatan kapasitas Pramuwisata, pemahaman tentang destinasi, transportasi, kesiapan restoran dan akomodasi amat penting diketahui bagi kenormalan wisatawan di Kawasan BTS, Kawasan Borobudur-Merapi, Geopark Batur, dan lainnya di Indonesia. Ini terkait dengan empat langkah hospitality layanan yang terangkum dalam SOP Guiding HPI, sejak: provide, prepare, perfect, prevent (https://mediacenterhpi.com). Bahwa Pramuwisata harus siap dan mampu menggunakan materi-materi pemandan seperti sejarah, daya tarik alam seperti gunung, upacara tradisi, seni dan budaya demi layanan prima yang disuguhkan kepada wisatawan. 

Prosedur layanan Pramiwusata dalam kesiapan teknis kunjungan perlu kerjasama yang solid dengan para pihak kepentingan, meningkatkan kapasitas pemanduan yang berkualitas, memberikan pengalaman kunjungan turis yang baik. Bahwa Guide harus faham sejarah budaya lokal destinasinya dan dalam praktek usahanya perlu mendorong kesejahteraan dan partisipasi masyarakat sekitar destinasi, serta memperhatikan edukasi, konservsi, dan kelestarian lingkungan dimana teknik guiding diberlakukan. Jadi baik kesiapan kunjungan wisata daring (tur virtual) dan sekarang mulai langsung luring, Guide HPI siap menerapkan protokol guiding. Salam HPI Jaya, jayalah selalu (Mcnews, amm|editor, aka)

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama