Review New Normal Wisata Bromo : Sepi & Alami (2)

 


"Saya fokus dulu ya mas, supaya tidak tersesat ke Widodaren. Patok-patok pembatas ini sangat membantu arah perjalanan jip," ucap Irwan kepada kami. Ya, area lautan pasir ini memang dibatasi oleh patok-patok sebagai penanda area yang tidak boleh dilintasi kendaraan bermotor agar tidak menngganggu kinerja seismograf yang dipasang disekitar kawah Gunung Bromo. Patok-patok ini juga sebagai penanda arah untuk menuju ke Pananjakan 1 sebagai view point favorit wisatawan untuk menikmati sunrise dan panorama kaldera Gunung Bromo.



Tanjakan demi tanjakan dilalui oleh jip, beberapa kali harus berhenti untuk memasang dan melepas handle 4x4. Bukit Cinta dan Bukit Kingkong tampak sepi, tidak ada satu pun jip yang parkir. Tepat pukul 04:00 tibalah kami di area parkir Pananjakan. Hanya ada 5 jip yang parkir disini, ditambah 2 dengan jip kami, total hanya ada 7 jip. Suhu udara menunjukkan 11°C dan angin bertiup dan bersiul begitu kencangnya di atas area parkir. Artinya, di Puncak Pananjakan pasti akan sangat dingin. Kami memutuskan untuk menunggu saatnya sunrise di warung Baladewe sambil minum jahe hangat dan sholat shubuh.


Tepat pukul 05:00 kami menuju Puncak Pananjakan yang hanya berjarak sekitar 100m dari warung Baladewe. Sesampainya di puncak, pemandangane begitu memukau. Ufuk timur sudah menjingga, matahari sudah bersiap untuk keluar. Cuaca pagi itu sangat cerah. Tidak ada awan, tidak ada kabut, dan pengunjung sangat sedikit, hanya sekitar 20 orang. Suhu pun semakin dingin di puncak, hanya 4°C.



Puas menikmati sunsrise, tatapan mata langsung tertuju ke panorama kaldera. Ya, karena situasi yang sepi, jadi hamparan pemandangan yang elok langsung terpampang di depan mata. Biasanya, untuk menikmati sunrise harus bergantian karena padatnya pengunjung. Foto dengan latar belakang panorama di bawah thower harus bergantian. Sekarang semuanya langsung bisa dinikmati di puncak Pananjakan 1.

Perjalanan dilanjutkan menuju Bukit Kingkong dan Bukit Cinta. Semua sepi. Hamparan rumput menghijau, kaliandra tumbuh tinggi besar dan rimbun. Hamparan edelweis langsung menyambut kami di perbukitan Kingkong dan Bukit Cinta.

Untuk sementara, kawah Bromo masih tidak bisa dikunjungi karena aktivitas yang meningkat. Maka jalan-jalan di lautan pasir dilanjutkan hanya sampai di kawasan Pura dan kaki Gunung Batok. Sangat elok karena tidak banyak jejak kaki dan kuda di lautan pasir. Gunung Batok pun tampak hijau meskipun di musim kemarau.



Perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Bukit Teletubbies. Sepanjang jalan, rerumputan tumbuh subur setinggi mobil jip, bahkan menghalangi jalan jip. Hamparan tanaman adas memberi warna hijau di sepanjang perjalanan. Tidak ada awan putih, langit biru sangat cerah. Bukit Teletubbies tampak sangat hijau. Cantik untuk berfoto-foto.

Trip ditutup dengan menikmati sarapan di resto Lava View Lodge yang terletak di bibir kaldera Gunung Bromo area Cemaralawang. Local food dihidangkan di meja karena tidak ada layanan buffet untuk masa new normal ini. (MCNews/yhy)

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama