Batik : Antara Tradisi dan Komoditi (1)

    Contoh hasil produk Batik

Oleh : Sayogo Kertodikromo, DPC HPI Bantul DIY

(Pemenang pertama Lomba Menulis Nasional HPI 2020) 

Batik adalah satu kata yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI), Batik  adalah kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya melalui proses tertentu. Kata batik merupakan  akronim dari ‘amba’ yang berarti kain yang lebar dan kata ‘tik’ berasal dari kata titik. Artinya, batik merupakan titik-titik yang digambar pada media kain yang lebar sedemikian rupa sehingga menghasilkan pola-pola yang indah. Ensiklopedi Kraton Yogyakarta terbitan Dinas Kebudayaan DIY dalam bab Seni Rupa dan Kerajinan mengupas secara lebih detail tentang definisi batik. Disebutkan bahwa ada anggapan akhiran ‘tik’ berasal dari menitik, menetes. Sebaliknya kata mbatik dalam bahasa Jawa (Kromo) berarti serat dan dalam bahasa Jawa (Ngoko) berarti tulis, secara mudah kemudian diartikan melukis (menitik) dengan lilin (malam). Oleh sebab itu maka yang dikategorikan batik pada awalnya adalah batik tulis. Sampai awal abad ke-20, batik yang dikenal masyarakat adalah batik tulis, sedangkan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I. Sekitar tahun 1970-an muncul printing dan painting batik.

Banyak pendapat tentang awal mula masyarakat Indonesia mengenal batik. Beberapa   sumber menyebutkan bahwa batik sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Perkembangan batik pada masa itu dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulungagung. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa orang pengrajin batik yang mulai muncul di Mojokerto pada akhir abad ke-19. Selanjutnya batik mulai menyebar dan berkembang pesat di daerah Surakarta dan Yogyakata, tepatnya pada zaman Kerajaan Mataram. Pada era itu batik hanya dikerjakan di dalam lingkungan kraton dan dikenakan oleh raja dan kerabatnya. Batik menjadi simbol kepangkatan dan derajat seseorang. Masyarakat Jawa memang identik dengan simbol-simbol. Busana batik menjadi sarana menunjukkan identitas seseorang dalam struktur kebangsawanan.


BATIK TRADISIONAL 

Batik tradisional terbagi mejadi dua kelompok: batik pedalaman dan batik pesisiran. Kraton Yogyakarta merupakan salah satu basis utama perkembangan seni batik pedalaman. Batik Kraton adalah batik yang  tumbuh dan berkembang di lingkungan kraton dengan dasar-dasar filsafat kebudayaan Jawa yang mengacu pada nilai-nilai spiritual dan pemurnian diri serta memandang manusia dalam konteks harmoni dengan semesta alam yang tertib, serasi dan seimbang. Batik Kraton sejatinya merupakan pendukung seluruh sistem kekuasaan Kraton. Oleh sebab itulah ciri khas seni batik daerah pedalaman seperti Surakarta dan Yogyakarta cenderung memperlihatkan nuansa murung, gelap dan statis dalam tampilan yang lebih mengutamakan suasana formal dan simetris. Kebanyakan secara teknis batik Kraton hanya dibuat dengan menggunakan teknik tulis. Seni batik Kraton ini sendiri banyak dikerjakan oleh para wanita bangsawan dengan aneka warna dan corak. Akan tetapi secara khusus batik Kraton Yogyakarta memiliki ciri khas warna utama: putih, hitam dan coklat. Sampai saat ini motif batik Kraton telah mencapai empat ratusan motif. 

Ada motif yang disakralkan dan hanya boleh dipakai oleh kalangan Kraton. Ketatnya aturan tersebut karena batik mempunyai motif yang sarat akan makna. Simbol-simbol tradisional yang ditampilkan mempunyai arti, nilai, cerita, norma, harapan, dan moralitas yang dipercaya mempengaruhi kehidupan manusia. Jadi tidak boleh dipakai sembarangan. Berbagai aturan pemakaian dan penggunaan corak batik yang perlu diketahui antara lain pada saat seremoni tertentu ditandai misalnya sebagai berikut: 

Penguasa, putra mahkota dan permaisuri atau istri mereka harus menggunakan  corak Parangrusak, Sambegan huk dan Garuda Agêng. 

Khusus bagi putra anggota keluarga yang bergelar pangeran serta keturunan penguasa menggunakan corak: semua corak Sêmèn dengan sayap Garuda berganda maupun tunggal dan Udan Liris.

Kerabat jauh yang bergelar Raden Mas atau Raden menggunakan corak: semua corak Sêmèn tanpa bentuk-bentuk sayap, Kawung, dan Rujak Sénthé, mirip Udan Liris yang umumnya menggunakan garis-garis diagonal bercorak. Begitu pula dengan waktu pemakaian, motif kawung dapat dipakai untuk beberapa upacara seperti upacara kelahiran, sedangkan Motif Sidomukti untuk pernikahan, dan motif slobog untuk kematian.

Adapun batik pesisiran adalah batik yang tumbuh dan berkembang di luar dinding Kraton atau berkembang di daerah pesisir pantai utara Jawa. Keberadaanya tidak di bawah kendali dan dominasi Kraton berikut tata aturan, alam pikiran, dan filsafat budaya Jawa Kraton. Pertumbuhannya berangkat dari beberapa faktor yaitu masyarakat pelaku produksinya adalah rakyat jelata, sifat produknya cenderung merupakan komoditas perdagangan yang luas dan ikonografinya sarat dengan pengaruh etnis. 

Salah satu ciri khas batik pesisiran adalah warna yang dipergunakan. Batik pesisiran terlihat lebih cerah, ditandai dengan sering menggunakan warna merah dan biru dibandingkan coklat yang menjadi kegemaran pembatik asal Yogyakarta dan Surakarta. Di sepanjang pesisir Pulau Jawa terdapat sentra produksi batik dengan ciri khas masing-masing, seperti Lasem, Bakaran Pati, Tuban, Cirebon, Pekalongan dan masih banyak lagi. Setiap daerah memiliki ciri dan kreativitas masing-masing. Salah satu motif batik pesisiran yang terkenal adalah motif mega mendung asal Cirebon. 

Bersambung 


0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama