Nila, The Forgotten Commodity

Pohon Nila 
sumber gambar : shutterstock.com

"Menjelang Akhir Abad ke 19 , Levi Strauss mengenalkan pakaian kerja untuk para penambang yang terbuat dari katun  kuat di Amerika Serikat. Kain pakaian dibuat untuk bahan dasar celana  lapangan. Kain itu bernama Denim, yang diambil dari sebuah kota di Prancis bernama De Nime , kota itu terkenal menjadi penghasil industri tekstil populer pada masa itu. Mereka menyebut pakaian  itu dengan Jeans , nama yang diambil dari kata genes (dikenal dengan genoa) , sebuah kota yang telah mengenalkan kain tersebut 3 abad lebih awal di Italia. model Celana Jeans yang populer di Amerika  saat itu adalah warna biru indigo.Namun Yang menjadi pertanyaan mendasar adalah , sebelum pewarna sintetis  ditemukan dan populer diawal abad 20, apa yang menjadi salah satu pewarna alami (natural dye)  blue jeans tersebut?" 
Jawabannya adalah  tanaman Indigofera  atau yang  kita kenal dengan sebutan  Nila


Sebutan Nila diberbagai daerah di Indonesia 
sumber : asiantextilestudies.com


Panggil Aku Nila

Tanaman Nila (Indigofera) merupakan tanaman suku polong-polongan. Tanaman ini dikenal sebagai pewarna alami indigo ( indigo dye) . Indigo  merupakan warna biru yang khas dan sering kita temukan pada celana Jeans, Batik biru dan Kain tenun tradisional.  Tanaman Indigofera tersebar secara luas di Wilayah Asia, Afrika hingga Amerika Tengah. Namun  spesies yang paling dikenal penghasil pewarna indigo terbaik adalah Indigofera Tinctoria yang secara garis besar banyak di temukan di Asia Tenggara dan India. Sejak Era-Yunani Kuno, nila sudah dipasok ke Eropa dari India. Hal ini tercermin dari kata Indigo yang berasal dari  bahasa Yunani Indikon, yang berarti Dari India. Sejak berabad-abad lalu nenek moyang kita telah menggunakan warna Indigo untuk keperluan pewarna Biru pada Batik hingga Tenun Tradisional seperti Ulos di Sumatra Misalnya. 


Di Indonesia ada beberapa penyebutan berbeda pada tanaman Nila. Orang –orang sunda menyebutnya dengan Tarum, tak heran bisa kita temukan kata ini pada sejarah atau pun beberapa kawasan di  Jawa Barat, Seperti Kerajaan Tarumanagara, Sungai Citarum, Tarumajaya dan Bajar Pataruman. Sementara Orang Jawa Menyebut tanaman ini dengan Tom, yang diketahui telah menjadi bagian dari pewarna Biru Nila untuk Batik Indigo sejak dahulu.


indikator jenis-jenis warna indigo
sumber: pinterest.com



Nila ,It’s not only about colour

Tanaman nila bisa tumbuh dari dataran rendah hingga  1000 mdpl, tinggi tanaman ini rata-rata bisa mencapai 1- 2 meter. Dan bagian yang digunakan untuk menjadi pewarna alami pakaian adalah daunnya. Biasanya untuk membuat pasta warna daun direndam dalam air selama 2 hari . Kemudian larutan yang terbentuk disaring  dan diolah hingga proses larutan hijau menjadi biru. Pewarna Nila terkenal akan ketahanan warna yang baik terhadap cuaca maupun zat kimia seperti deterjen. 

Beberapa contoh desain Batik dengan warna Indigo
sumber : industri.co.id


Selain digunakan sebagai pewarna alami, daun nila juga memilki protein tinggi sehingga bagus untuk digunakan sebagai pakan ternak. Tanaman ini juga bisa ditanam sebagai tanaman konservasi ataupun tumpang sari perkebunan karena mencegah erosi serta menjaga kelembaban tanah. Beberapa Jenis Indigofera bahkan bisa digunakan sebagai obat herbal , seprti Indigofera Articulate yang bisa digunakan untuk mengobati sakit gigi. Atau Indigofera Oblongifolia yang bisa mengurangi bengkak karena digigit serangga. Bahkan seperti Indigofera brevicalc dan Indigofera Swaziensis juga bisa dipakai sebagai sikat gigi. Daun Nila pula bisa diolah untuk dikonsumsi langsung menjadi herbal bagi manusia. Sari daunnya bisa dicampur dengan madu untuk menjadi obat cacing bagi anak-anak. 


Nila dan Belanda

Kebangkrutan  perusahaan raksasa Belanda VOC  diakhir abad 18 ditambah pergolakan perang dari rakyat Jawa ,  membuat Belanda memutar otak untuk meraup pendapatan baru, dari diberlakukan pajak tanah petani hingga menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel) di tanah jajahannya . 


Beberapa komoditi disiapkan, untuk memenuhi pasar Eropa yang meledak-ledak, terutama setelah Revolusi Industri.  5 Komoditi Utama, yaitu Gula tebu, tembakau, karet , kelapa sawit dan Karet muncul sebagai primadona baru. Beberapa komoditi lain seperi lada, kakao , kopi hingga Nila juga masuk dalam jajaran pasar Ekspor.Komoditi  Nila sempat mengalami masa kejayaannya di abad ke 19, kebutuhan pewarna pakaian indigo yang tinggi sempat menjadi kebutuhan tinggi di pasar Eropa dan Amerika, karena didampingi harga yang cukup menjual pada masanya nila  juga sempat dijuluki sebagai Blue Gold atau si Emas Biru. Namun setelah pewarna sitentis ditemukan pada tahun 1878 oleh Ahli Kimia Jerman, Adolf Von Beeyer popularitas mulai menyusut . Pewarna  indigo sintetis jauh lebih murah bisa memotong ongkos impor dan lapangan , meskipun nila jauh lebih baik secara kualitas ataupun dampak terhadap lingkungan (ecofriendly).


Proses pembuatan warna indigo tradisional di Sumba Barat
Sumber : asiantextilestudies.com 
Photographer : David & Richardson


Gara – gara sintetik setitik, rusak nila sebelanga

Meskipun komoditas nila tetap eksis hingga saat ini, namun pamornya sebagai the blue gold telah memudar, nila lebih sering ditemukan sebagai pakan ternak dari pada pewarna pakaian. Kearifan lokal seperti masyarakat yang membatik dan pembuatan kain tenun Tradisional di Beberapa daerah menjadi penyangga utama reputasi nila sebagai pewarna indigo terbaik. Akankah nila suatu saat bangkit kembali sebagai “the blue gold” ? coba tanya sintetik yang ‘bergoyang’. (mcnews/aka)

0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama