Benda Purbakala: Dibuang Sayang, Disimpan Untuk Apa

 
Study tour mahasiswa Malang ke Candi Prambanan

Oleh : Agus Susanto -  DPC HPI Kota Yogyakarta

Tidak banyak masyarakat yang tahu, setiap tanggal 14 Juni merupakan hari Purbakala International. Hari purbakala dimulai pada 14 juni 1913, ketika seorang berkewarganegaraan Jerman, J. E Rumphius menginisiasi berdirinya Lembaga Penelitian Kepurbakalaan (Bataviaach Genootschaap van Kynsten en Wetenschappen).

Selain menjadi hari Purbakala International banyak pegiat kebudayaan mengharapkan menjadi Hari Kebudayaan Nasional yang memiliki pengertian luas. Dimana menunjukkan kebudayaan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Sebab, kebudayaan masa kini tidak akan ada kalau tidak ada masa yang akan datang. Begitu pun, tak ada masa kini dan akan datang kalau tidak ada masa lalu. 

Walau belum banyak masyarakat yang tahu 107 tahun lalu tapi paling tidak masih ada yang tahu pernik dan geliat Hari Purbakala bermula. Buktinya sekarang sudah muncul semangat dari kelompok masyarakat yang memberi nama Purbamileniakala.

Pada saat Purbamileniakala mengunjungi Candi Prambanan, mendapatkan penjelasan simbol-simbol yang mengandung filosofi pada masa lalu yang di bawa oleh agama Hindu. Dalam penjelasan itu, terungkap Manusia di bagi menjadi 4 kasta, yakni; Brahmana, Ksatria, Waisha dan Sudra. 

 

Kasta-kasta ini memiliki ikatan yang kuat, sampai kapanpun golongan pekerja kasar, misalnya tukang batu, kayu, pandai besi, tidak akan naik ke kasta Waisha yang berisikan kaum pedagang, pegawai rendah kerajaan. Begitu juga golongan kesatria yang berisikan pegawai tinggi kerajaan, komandan pasukan keamanan tidak akan pernah naik ke Brahmana, yang berisikan para pemuka agama, anggota kerajaan. Sedangkan kasta yang lebih tinggi akan malu kalau turun kasta. 

Apakah kasta-kasta itu masih ada sampai sekarang?  Jawabnya tidak ada. Sebab kalau hal itu masih ditonjolkan atau diutamakan, akan dianggap melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Tetapi di sisi lain, lewat pembagian kasta, dapat memberikan informasi yang jelas tentang cara berbicara dan bahasa yang digunakan orang-orang masa lalu. 

Sejarah keemasan di masa silam merupakan energi nasionalisme masyarakat bangsa ini. Lewat masa lalu dapat ditarik benang merah antara kepurbakalaan, kebudayaan dan kebangsaan tugas ini tentu bukan semata tanggung jawab dari Arkeolog, melainkan seluruh anak Bangsa ini, termasuk stake holder kepariwisataan misalnya; tour guide, penggiat kebudayaan, seniman, dan lain-lain.


Tugas Arkeolog adalah  merawat, meneliti situs budaya yang ada, Antropolog merawat adat budaya yang ada, sosiolog merawat hubungan kemasyarakatannya etnograf mengkaji lebih dalam kekuatan etniknya dan Mataramologi bisa di jadikan ilmu untuk memahami kompleksitas keseluruhan ilmu yang menjadi narasi akademis agar kearifan masa lalu tetap terjaga dan menjadi  asset ilmu yang akan datang.

Sebagai media pembelajaran kebudayaan, khususnya pemahaman detail sejarah periode Mataram itulah salah satu diantaranya saat ini perlu kian di kedepankan ke publik lewat aktivitas pariwisata, dengan adanya candi Sambisari, Prambanan, Plaosan dan Boko dan masih banyak lagi. Dengan demikian persinggungan dunia sekolah dan kampus semakin terbuka lebar, mendorong siswa dan mahasiswa untuk lebih mengenali jejak peninggalan budayanya. 


0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama