UPGRADING atau UPSKILLING bagi PEMANDU WISATA

Mcnews (4/3).  Bagi sekelompok pekerja pariwisata tertentu masa Pandemi selama tahun 2020 hingga maret 2021 seolah-olah melewati masa yang menyeramkan, demikianlah para pelaku pariwisata di Jogjakarta merasakannya. Maka kegiatan Up-grading bagi mereka seperti menyibukkan dan membesarkan hati bak meminum air di tengah rasa dahaga, setahun tanpa aktivitas kerja guiding. 

Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, Direktorat Pengembangan SDM Pariwisata menyelenggarakan Upgrading atau Upskilling Training bagi Pemandu wisata di Hotel East Park, Seturan, Yogyakarta tanggal 1-4 Maret 2021.  Kegiatan pelatihan ditutup oleh Surana, Koordinator Peningkatan. Kompetensi SDM Pariwisata.


 

Peserta Upskilling berfoto bersama di Hotel East Park, Seturan, Yogyakarta


Penulis berhasil menemui Surana di tengah kesibukannya pada acara training bagi Pemandu Wisata di Jogjakarta.  Menurut Surana, kegiatan Upgragrading atau uplsiklling ini sebenarnya telah lama direncanakan dan telah dilaksanakan sejak tahun 2019 hingga 2023, yang didanai melalui oleh PHLN Bank Dunia untuk pengembangan SDM Pariwisata di destinasi B-Y-P (Borobudur-Yogyakarta-Prambanan, Yogyakarta), Toba Sumatera Utara, dan Mandalika Lombok.

Yang sangat terdampak adanya Covid 19 adalah Pemandu wisata, karena mereka adalah freelance, tidak memiliki gaji tetap, bila ada pekerjaan memandu wisatawan baru mereka memperoleh pendapatan, sehingga dengan tidak adanya wisatawan pada masa covid-19 ini mereka kehilangan pendapatan.  Beda dengan beberapa pekerja dan pegawai lainnya yang meskipun sepi masih bisa di-shift dan masih ada gaji bulanan walaupun kecil, imbuh Surana.

Kegiatan upgrading atau upskilling yang diikuti oleh sekitar 80 pemandu wisata dengan berbagai spesifikasi bahasa asing dan pemandu desa wisata, berlangsung tgl 1-4-Maret 21 ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dan merefresh supaya di masa kondisi sepi dari kegiatan kepemanduan ini. Peserta yang berasal dari Himpunan Pramuwisata Indonesia ini diberi pembekalan dan diajak merefresh kompetensinya karena sudah cukup lama berdiam diri di rumah.  Peserta diberi materi yang kekinian, misalnya mengenai story telling dan CHSE.

Pemandu wisata merupakan pekerja yang sangat menarik, sangat dibutuhkan oleh para wisata, misalnya dengan diberikan pembekalan pengetahun mengenai storytelling, para peserta nantinya harus mampu memberikan penjelasan dalam membawa tamunya, dengan tidak monoton seperti membaca buku, namun harus mampu mengimprovisasi dalam bercerita tentang obyek atraksi untuk membuat tamu-tamunya sangat tertarik.

Materi bertopik CHSE (Clean, Health, Safety, Enviroment Sustainablity) menunjuk konsep ramah lingkungan. Hal ini untuk menggalakkan agar kegiatan kepemanduan wisata apabila sudah ada wisatawan datang nantinya harus mampu menerapkan protokol kesehatan yakni bersih, sehat, aman dan ramah lingkungan. 

Sepertinya memang kita diingatkan oleh Allah bahwa selama ini kita memperhatikan prinsip-prinsip di atas dalam berbagai aktifitas, namun tidak ada kata terlambat buat kita semua, dalam keadaan apapun baik di rumah, maupun terutama pada saat kita bekerja protocol kesehatan ini harus terus kita lakukan, kapan saja dan di mana saja, imbuh Pria yang low profile yang sudah banyak pengalaman di Manca Negara maupun di dalam Negeri.

Di sela sela kegitannya yang padat, Surana berharap agar program vaksin berjalan baik, sehingga aktifitas pariwisata segera kembali normal. Namun sekali lagi diingatkan walaupun sudah mengikuti vaksin, penerapan prokes harus tetap dijalankan alam melakukan aktifitas pariwisata. Salam sehat semuanya, kontributor Agus Susanto DPC HPI Jogja. (Mcnews/amm)


0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama