Kenangan Hotel Des Indes Batavia

Hotel des Indes Batavia (1910)


Diskusi group Guide Bahasa Jerman (26/3) antara Irmen, Sodikin, Iis Sutrisna, dan kawan-kawan sore itu mengingatkan kenangan kerja guiding masa lalu. Hotel Des Indes itu dulunya berada dekat bus halte Harmony, pada zaman dulu merupakan kantor travel Puri Tur Jakarta, tapi sekarang total sudah tak ada sisa bangunan hotel kuno tersebut. Pada tahun 1971, bangunan hotel dibongkar untuk didirikan Pertokoan Duta Merlin.

Hotel des Indes adalah hotel yang beroperasi mulai tahun 1856 hingga tahun 1960 di Weltevreden, Batavia. Di hotel ini tercatat Sejarah ditandatangani Perjanjian Roem Royen pada 7 Mei 1949. Sungguh bagi para pemandu wisata overlander tamu-tamu asal Jerman ini, bahwa diskusi topik Hotel des Indes tahun 1945-1948 ini mengingatkan banyak hal; suasana Jakarta era kemerdekaan, terutama kisah maupun peran hotel ini di awal kemerdekaan Indonesia.

Disunting dari sumber Wikipedia, Hotel des Indes, 1910. Reinier de Klerk merupakan pemilik tanah untuk lokasi hotel ini sejak tahun 1760. Tanah dan rumah di atasnya dijual de Klerk kepada C. Postmans pada tahun 1774. Pada tahun 1824 tanah dan bangunan dibeli pemerintah untuk sekolah asrama putri. Pada tahun 1829, tanah dan bangunan di atas lokasi dibeli orang Prancis bernama Antoine Surleon Chaulan yang mendirikan sebuah hotel bernama Hotel de Provence. Pada tahun 1845, putra Etienne Chaulan mengambil alih hotel dari tangan ayahnya.

Pada tahun 1851, di bawah manajemen Cornelis Denning Hoff, hotel ini berganti nama menjadi Rotterdamsch Hotel. Pada tahun berikutnya (1852), hotel ini dibeli orang Swiss bernama François Auguste Emile Wijss yang menikah dengan keponakan perempuan dari Etienne Chaulan. Pada 1 Mei 1856, Wijjs menamakan hotel ini sebagai Hotel des Indes atas usulan Douwes Dekker.

Pada tahun 1860, Hotel des Indes dijual Wijjs kepada orang Prancis bernama Louis George Cressonnier. Menurut Alfred Russel Wallace yang berada di Batavia pada tahun 1861[1],

 

Sumber: https //id.m.wikipedia.org


“Hotel des Indes sangat nyaman, setiap tamu disediakan kamar duduk dan kamar tidur menghadap ke beranda. Di beranda, tamu dapat menikmati kopi pagi dan kopi sore. ... Pada pukul sepuluh disediakan sarapan table d'hôte, dan makan malam mulai pukul enam, semuanya dengan harga per hari yang pantas.”

Setelah Cresonnier meninggal dunia pada tahun 1870, keluarganya menjual hotel ini kepada Theodoor Gallas. Pada tahun 1886, Gallas menjual hotel ini kepada Jacob Lugt yang memperluas hotel secara besar-besaran dengan cara membeli tanah di sekeliling hotel. Setelah Lugt mendapat masalah keuangan, Hotel des Indes dijadikan perseroan terbatas N.V. Hotel des Indes pada tahun 1897. Pada tahun 1903, hotel ini berada di bawah manajemen J.M. Gantvoort sebelum dikelola oleh Nieuwenhuys

 

Arsitektur des Indes Batavia (https://id.pinterest.com)


Diakui oleh John T McCutcheon bahwa pada tahun 1910 bila dibandingkan dengan Hotel des Indes, semua hotel di Asia berada di bawahnya. Selanjutnya, ia bercerita tentang kemewahan rijsttafel di hotel ini;

“Anda harus makan siang lebih awal agar ada cukup waktu untuk menikmatinya sebelum makan malam. Makan siang disajikan oleh 24 orang pelayan yang berbaris memanjang, mulai dari dapur hingga ke meja, dan kembali ke dapur dengan berbaris. Setiap pelayan membawa sepiring makanan berisi salah satu lauk dari keseluruhan 57 lauk pauk untuk rijsttafel. Anda mengambil sendiri lauk dengan sebelah tangan hingga lelah, lalu bergantian dengan tangan yang sebelah lagi. Ketika Anda sudah siap makan, piring anda terlihat seperti bunker di padang golf yang dipenuhi nasi.”

 


des Indes Batavia (https://id.pinterest.com)


Setelah Indonesia merdeka, hotel ini diambil alih Pemerintah Indonesia pada tahun 1960, dan berganti nama menjadi Hotel Duta Indonesia. Selanjutnya pada tahun 1971, bangunan hotel dibongkar untuk didirikan Pertokoan Duta Merlin. Tinggallah jejak hotel des Indes menjadi catatan sejarah. 

Jelas, ketika itu wisatawan asing sudah mengelana di Jawa dari ujung barat ke timur pulau, terutama turis asal Belanda. Mereka kebanyakan berwisata dalam rombongan di Jakarta, bahkan bermula sebelumnya di Danau Toba, untuk melanjutkan perjalanan ke Borobudur, Bromo, dan Bali. Ah, obrolan di group Guide DR Bahasa Jerman ini membuat semangat kembali menatap kenormalan kunjungan wisata, seperti disampaikan Menteri Sandiaga Uno https://nasional.kontan.co.id/news/sandiaga-uno-isyaratkan-wisatawan-asing-boleh-masuk-indonesia-pertengahan-tahun-ini?utm_source=dable


Sumber: Wikipedia.. Auox Swantoro - Group DR 3/26/2021 (mcnews/amm)  


0/Post a Comment/Comments

Lebih baru Lebih lama